Program CSR Cetak Sawah di Sergai Menimbulkan Kebingungan Petani Mengenai Sumber Airnya

Program CSR cetak sawah yang digagas di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) telah menciptakan antusiasme di kalangan petani dan pemilik lahan. Namun, di tengah dukungan yang kuat, muncul pertanyaan mendasar mengenai ketersediaan sumber air untuk mengairi lahan yang baru dicetak. Dalam sosialisasi yang berlangsung di Aula Kantor Desa Tebing Tinggi pada Selasa, 11 Agustus 2026, para petani mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait keberlanjutan program ini setelah proses pencetakan selesai.
Kekhawatiran Terhadap Sumber Air
Beberapa petani, termasuk Turman, seorang pemilik lahan berusia 61 tahun, mengekspresikan dukungannya terhadap program cetak sawah yang dianggap membawa manfaat signifikan bagi masyarakat. Turman bahkan telah mengubah lahan perkebunan sawit miliknya seluas 88 hektare menjadi lahan pertanian. Namun, ia menyatakan bahwa masalah utama yang harus ditangani adalah ketersediaan air untuk mengairi sawah yang baru dicetak.
“Program ini sangat bermanfaat, tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana kita bisa mendapatkan air untuk sawah ini,” ungkap Turman dengan nada khawatir. Selain itu, ia juga mencatat bahwa pekerjaan pencetakan lahan yang dilakukan oleh kontraktor mungkin belum memenuhi standar operasional prosedur (SOP) yang diharapkan. “Kami perlu evaluasi lebih lanjut terhadap lahan yang telah dikerjakan,” tambahnya.
Pertanyaan Tentang Keberlanjutan Program
Pertanyaan mengenai keberlanjutan program juga disampaikan oleh Rudi Naibaho, seorang petani berusia 41 tahun. Ia mengapresiasi inisiatif pemerintah dan mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak terkait, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan Bupati Sergai Darma Wijaya. Namun, Rudi merasa perlu ada kejelasan tentang langkah-langkah selanjutnya setelah program cetak sawah ini rampung.
“Apa yang akan dilakukan setelah program CSR cetak sawah ini selesai? Bagaimana nasib lahan yang telah dicetak?” tanyanya dengan serius. Pertanyaan ini mencerminkan keresahan banyak petani yang tidak ingin usaha mereka sia-sia setelah proses pencetakan selesai.
Evaluasi Pekerjaan Kontraktor
Persoalan teknis terkait pelaksanaan pekerjaan juga disoroti oleh D Br Tambah, seorang pemilik lahan berusia 60 tahun dari Desa Juhar, Kecamatan Bandar Khalifah. Ia memiliki lahan seluas 20 hektare yang terlibat dalam program ini. Menurutnya, pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor memerlukan penilaian kembali, karena dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan SOP yang ditetapkan.
“Kami berharap ada evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan, agar kualitas hasilnya bisa lebih baik,” pungkasnya. Kekhawatiran mengenai kualitas pekerjaan ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program ini.
Respons dari Pemerintah Daerah
Merespons berbagai pertanyaan dan kekhawatiran dari para petani, M Hakim Harahap, Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Sergai, menegaskan bahwa program CSR cetak sawah bertujuan untuk memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat. Ia menyarankan agar petani yang lahannya belum terlibat dalam program ini untuk mengajukan usulan melalui kanal yang ada.
“Untuk pertanyaan yang diajukan petani, saya tidak bisa menjawab semuanya di sini. Nanti akan kami serahkan kepada bidang masing-masing untuk memberikan penjelasan lebih lanjut,” katanya.
Rencana Pembangunan Irigasi
Deden dari Badan Pengelolaan Lahan Irigasi Pertanian (BPLIP) menjelaskan bahwa program cetak sawah yang sedang berlangsung merupakan bagian dari upaya untuk mengoptimalkan lahan pertanian di daerah tersebut. Terkait dengan masalah sumber air yang dikhawatirkan oleh petani, Deden menegaskan bahwa pembangunan irigasi telah direncanakan sebagai tahap selanjutnya.
“Memang benar bahwa irigasi telah dimasukkan dalam program, tetapi pelaksanaannya tidak bersamaan dengan pencetakan sawah,” jelas Deden. Penjelasan ini memberikan harapan bahwa infrastruktur irigasi akan segera tersedia untuk mendukung lahan yang telah dicetak, meskipun saat ini para petani merasa khawatir tanpa adanya jaminan air yang cukup.
Harapan Petani untuk Masa Depan
Dengan penjelasan dari pihak pemerintah, para petani berharap agar tahapan pembangunan irigasi dapat segera direalisasikan. Mereka ingin memastikan bahwa sawah yang sudah dialihfungsikan tidak hanya berhenti pada proses pencetakan, tetapi juga dapat berfungsi secara optimal untuk menghasilkan padi dan komoditas lainnya. Ini merupakan harapan bersama agar program CSR cetak sawah tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sosialisasi di Aula Kantor Desa Tebing Tinggi tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Kabid Penyuluhan Marnangkok Gultom, Pj Kepala Desa Tebing Tinggi Ilham, Sekretaris Desa Tebing Tinggi Reza, serta jajaran dari Dinas Pertanian Sergai. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendengarkan aspirasi petani dan berupaya menjawab tantangan yang ada.
Kesimpulan: Menuju Pertanian Berkelanjutan
Secara keseluruhan, program CSR cetak sawah di Sergai adalah langkah positif untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, tantangan utama seperti ketersediaan air dan kualitas pekerjaan kontraktor harus segera ditangani. Komunikasi yang baik antara pemerintah dan petani sangat penting untuk memastikan keberhasilan program ini.
Dengan langkah-langkah yang tepat dan dukungan infrastruktur yang memadai, diharapkan petani di Sergai dapat merasakan manfaat nyata dari program cetak sawah ini dalam jangka panjang.

