Resmikan Patung R. Soetedjo, KAI Daop 5 Apresiasi Lagu Di Tepinya Sungai Serayu di Stasiun Purwokerto

Stasiun Purwokerto kini memiliki daya tarik baru yang tidak hanya menawarkan layanan transportasi, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya daerah. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto baru saja meresmikan Patung R. Soetedjo, sebagai bentuk penghargaan terhadap maestro musik Banyumas dan karyanya yang terkenal, “Di Tepinya Sungai Serayu”. Kehadiran patung ini bukan sekadar ornamen, melainkan juga simbol pengakuan terhadap kontribusi R. Soetedjo dalam dunia musik dan kebudayaan Indonesia. Selain itu, patung ini juga menjadi ungkapan terima kasih kepada keluarga dan ahli waris R. Soetedjo yang telah berbaik hati tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut di stasiun ini.
Makna di Balik Patung R. Soetedjo
Peresmian patung ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan warisan budaya yang ada di Banyumas, serta mengedukasi generasi muda tentang sosok penting dalam sejarah musik daerah. Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, menjelaskan bahwa lagu “Di Tepinya Sungai Serayu” lebih dari sekadar penanda kedatangan kereta api. Lagu tersebut telah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Dengan adanya patung ini, KAI berharap dapat memperkenalkan R. Soetedjo kepada para penumpang kereta api yang datang dari berbagai daerah. Rangga menambahkan, “Stasiun merupakan tempat pertemuan dari beragam latar belakang. Kami berharap Patung Raden Soetedjo dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat tokoh seni Banyumas dan mengingat bahwa karya budaya memiliki nilai yang melampaui zamannya.”
Proses Pembuatan Patung
Pembuatan patung R. Soetedjo melibatkan berbagai pekerja seni yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya. Salah satunya adalah Septian Puhi Andriyanto, seorang pematung asal Magelang, yang berkontribusi dalam penggarapan elemen patung. Selain itu, Jatmiko Wicaksono, seorang dosen dari STIKOM Yogyakarta, berperan dalam penataan desain artistik, yang dilengkapi dengan biografi singkat R. Soetedjo serta replika biola Stradivarius Paganini, hasil karya perajin alat musik Banyumas, Sugeng Riyanto.
Partisipasi berbagai pihak dalam pembuatan patung ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dalam melestarikan seni dan budaya. Keberadaan patung ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya lokal.
Respon Keluarga R. Soetedjo
Perwakilan dari keluarga R. Soetedjo, Artika Mantaram, menyampaikan rasa terima kasih dan haru atas perhatian yang diberikan KAI terhadap sosok dan karya leluhurnya. “Kami sekeluarga merasa sangat terharu dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan KAI kepada Raden Soetedjo. Karya beliau merupakan bagian dari warisan budaya yang patut terus dikenang. Kami berharap keberadaan sudut ini dapat membuat masyarakat semakin mengenal sosok beliau dan mencintai musik serta kebudayaan Banyumas,” ungkap Artika.
Keputusan keluarga untuk tidak menarik royalti atas penggunaan lagu “Di Tepinya Sungai Serayu” menggambarkan komitmen mereka untuk menjaga kedekatan lagu tersebut dengan kehidupan masyarakat. Lagu ini telah menjadi bagian dari pengalaman penumpang yang tiba di Stasiun Purwokerto, menambah kedalaman arti dari kedatangan kereta api di stasiun tersebut.
Peran KAI dalam Pelestarian Budaya
Dengan diresmikannya Patung Raden Soetedjo, KAI Daop 5 Purwokerto berharap dapat memperkuat kolaborasi antara dunia transportasi, komunitas pelestari sejarah, keluarga seniman, dan pekerja seni. Upaya ini bertujuan untuk menjaga agar warisan seni daerah tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Patung ini menjadi bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026 yang dilaksanakan melalui kerja sama KAI Daop 5 Purwokerto dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR).
Program ini diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian warisan seni dan budaya Banyumas, dengan menyediakan ruang publik yang mudah diakses oleh masyarakat. KAI ingin memastikan bahwa nilai-nilai seni dan budaya tidak terlupakan dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Siapa Raden Soetedjo?
Raden Soetedjo, lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909, memiliki latar belakang yang kaya akan pengaruh musik. Ayah kandungnya bernama Poerwadibroto, namun ia kemudian diasuh oleh pamannya, R. Soemandar, seorang pegawai pabrik gula di Klampok, Banyumas. Sejak dini, R. Soetedjo memiliki cita-cita untuk mengabadikan pengalaman hidupnya dalam bentuk musik.
Beliau mendapatkan pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman ini membantunya mengembangkan keterampilan sebagai komponis, dan hasil karyanya telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Beberapa lagu terkenal yang diciptakannya antara lain “Di Tepinya Sungai Serayu”, “Tidurlah Intan”, dan “Melati Pesanku”.
Kontribusi Raden Soetedjo di Dunia Musik
Raden Soetedjo tidak hanya dikenal sebagai komposer, tetapi juga sebagai seorang penggiat musik yang berpengaruh. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada tahun 1946, di mana ia berperan dalam pengembangan musik melalui lembaga penyiaran di masa awal kemerdekaan. Selain itu, ia juga pelopor berdirinya Orkes Studio Djakarta (OSD) pada tahun 1948, yang terlibat dalam perekaman lagu Indonesia Raya, yang merupakan cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.
Selain itu, Raden Soetedjo juga bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara (AURI) pada tahun 1950 dan memperoleh pangkat kehormatan Letnan Dua Udara 1 AURI. Berkat kontribusinya dalam dunia seni, ia mendapatkan Penghargaan bidang Seni oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, pada tahun 1968.
Pentingnya Pelestarian Budaya
Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai pihak. Melalui inisiatif seperti peresmian Patung Raden Soetedjo, kita diingatkan akan pentingnya menjaga warisan seni agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. KAI Daop 5 Purwokerto, melalui upayanya, menunjukkan bahwa transportasi dan seni dapat berjalan beriringan, memberikan pengalaman yang lebih kaya kepada masyarakat.
Dengan mengedukasi masyarakat tentang tokoh-tokoh penting seperti R. Soetedjo, serta menampilkan karya-karya seni di ruang publik, kita dapat memastikan bahwa nilai-nilai budaya tidak hanya dikenang tetapi juga dihargai oleh generasi mendatang.
Melalui patung ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai kontribusi R. Soetedjo terhadap dunia musik, sekaligus memperkuat identitas budaya Banyumas yang kaya akan tradisi dan sejarah. KAI Daop 5 Purwokerto mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam pelestarian budaya, sehingga warisan seni daerah tetap hidup dan dikenang oleh generasi yang akan datang.


