Kimia Farma Raih Pendapatan Rp9,2 Triliun dan Kurangi Rugi Bersih di Tahun 2025

Jakarta – PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF), anggota dari holding BUMN Farmasi Bio Farma Group, berhasil menekan kerugian bersih dan mengurangi liabilitas pada tahun 2025. Langkah strategis ini merupakan bagian dari rencana transformasi menyeluruh yang akan dilakukan oleh perusahaan di setiap lini usaha. Ida Rasita Kirin, Corporate Secretary Kimia Farma, menjelaskan bahwa selama tahun 2025, KAEF menjalankan program restrukturisasi keuangan secara konsisten yang mulai menunjukkan hasil positif.
Pendapatan Kimia Farma di Tahun 2025
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, pendapatan Kimia Farma mencapai Rp9,22 triliun pada tahun 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 7,2% dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp9,93 triliun. Meskipun mengalami penurunan pendapatan, perusahaan berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp6,16 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp6,99 triliun pada tahun sebelumnya.
Seiring dengan penurunan beban pokok penjualan, Kimia Farma juga mencatatkan penurunan beban usaha yang signifikan. Beban usaha tercatat sebesar Rp3,31 triliun pada tahun 2025, berkurang 12,65% dari Rp3,79 triliun pada tahun 2024. Ini adalah bagian dari fokus perusahaan untuk memperbaiki struktur biaya, baik dari sisi harga pokok penjualan (HPP) maupun beban operasional (OPEX).
Strategi Efisiensi dan Optimalisasi
Melalui efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio produk, Kimia Farma mencatatkan kenaikan laba bruto menjadi Rp3,06 triliun, meningkat dari Rp2,95 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan rugi tahun berjalan juga menunjukkan perbaikan, dengan rugi berkurang dari Rp1,21 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp443,36 miliar pada tahun 2025. Ini tercermin pada penurunan rugi per saham dasar dari Rp151,31 menjadi Rp60,17, yang menunjukkan adanya pemulihan yang sedang berlangsung.
Meningkatkan Struktur Keuangan
Kimia Farma juga melakukan langkah-langkah signifikan untuk memperbaiki struktur keuangannya. Liabilitas jangka pendek tercatat menurun dari Rp7,91 triliun menjadi Rp7,06 triliun. Penurunan yang cukup signifikan terlihat pada utang bank jangka pendek, yang turun dari Rp3,06 triliun menjadi Rp1,09 triliun. Ini merupakan langkah penting dalam upaya perusahaan untuk menyehatkan struktur keuangan mereka.
Transformasi Menyeluruh di Semua Lini Usaha
Untuk memastikan kelangsungan bisnis dan mendorong pertumbuhan yang lebih sehat, Kimia Farma terus melaksanakan transformasi di seluruh lini usaha. Ida mengungkapkan bahwa transformasi ini akan berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu:
- Ketahanan modal kerja
- Penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM)
- Digitalisasi proses bisnis
- Efisiensi operasional
- Penguatan tata kelola perusahaan (GCG)
Dengan strategi tersebut, KAEF juga semakin menajamkan fokus bisnisnya pada pengembangan dan pemasaran produk yang memiliki margin lebih tinggi. Perusahaan tetap berkomitmen untuk menyediakan obat-obatan yang mendukung program pemerintah guna menjaga aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat.
Transformasi Digital untuk Efisiensi
Transformasi digital menjadi salah satu fokus utama dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan. Upaya ini mencakup penguatan sistem operasional, rantai pasokan, serta integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Dengan digitalisasi yang efektif, Kimia Farma bertujuan untuk meningkatkan layanan pelanggan dan respons terhadap kebutuhan pasar.
Dukungan Pendanaan untuk Perbaikan Kinerja
Kimia Farma juga memperoleh dukungan pendanaan melalui pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) sebesar Rp846 miliar dari PT Danantara Asset Management. Pendanaan ini melalui PT Bio Farma (Persero) sebagai holding BUMN farmasi, yang akan membantu KAEF dalam memperbaiki kinerja operasional secara berkelanjutan. Dengan tambahan modal kerja dari SHL ini, KAEF dapat memperkuat struktur keuangannya dan menjaga keberlangsungan usaha di tengah proses restrukturisasi yang sedang berlangsung.
Optimisme di Tengah Tantangan
Dengan dukungan dari Bio Farma Group dan Danantara, KAEF optimis dapat terus memperkuat posisinya di industri kesehatan nasional. Perusahaan berkomitmen untuk menerapkan strategi bisnis yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan. Inovasi produk dan layanan farmasi yang terintegrasi juga menjadi salah satu pilar utama dalam strategi mereka untuk menghadapi tantangan di industri.
Jangkauan dan Fasilitas Kimia Farma
Hingga saat ini, Kimia Farma telah memiliki 9 fasilitas produksi, 44 cabang trading & distribution, lebih dari 1.000 jaringan apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 65 laboratorium medis. Jangkauan yang luas ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah diambil, Kimia Farma berusaha untuk tidak hanya meningkatkan kinerja keuangannya, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Transformasi yang sedang berjalan diharapkan dapat membawa perusahaan menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.



